KONSTITUSI TENTANG LITURGI SUCI
PAULUS USKUP
HAMBA PARA HAMBA ALLAH
BERSAMA-BAPA-BAPA KONSILI SUCI
DEI KENANGAN ABADI
KONSTITUSI TENTANG LITURGI SUCI
PENDAHULUAN
1.
KONSILI SUCI bermaksud makin meningkatkan kehidupan Kristiani di antara umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang dalam pangkuan Gereja. Oleh karena itu Konsili memandang sebagai kewajibannya untuk secara istimewa mengusahakan juga pembaharuan dan pengembangan liturgi.
2.
Sebab melalui liturgi dalam Kurban Ilahi Ekaristi, “terlaksanalah karya penebusan kita”[1]. Liturgi merupakan upaya yang sangat membantu kaum beriman untuk dengan penghayatan, mengungkapkan Misteri Kristus serta hakikat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain, yakni bahwa Gereja bersifat sekaligus manusiawi dan Ilahi, kelihatan namun penuh kenyataan yang tak kelihatan, penuh semangat dalam kegiatan namun meluangkan waktu juga untuk kontemplasi, hadir di dunia namun sebagai musafir. Dan semua itu berpadu sedemikian rupa, sehingga dalam Gerja apa yang insani diarahkan dan diabdikan kepada yang ilahi, apa yang kelihatan kepada yang tidak nampak, apa yang termasuk kegiatan kepada kontemplasi, dan apa yang ada sekarang kepada kota yang akan datang, yang sedang kita cari[2] . Maka dari itu liturgi setiap hari membangun mereka yang berada didalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan, menjadi kediaman Allah dalam Roh[3] , sampai mereka mencapai kedewasaan penuh sesuai dengan kepenuhan Kristus[4] . Maka liturgi sekaligus secara mengagumkan menguatkan tenaga mereka untuk mewartakan Kristus, dan dengan demikian menunjukan Gereja kepada mereka yang berada di luarnya sebagai tanda yang menjulang di antara bangsa-bangsa[5]. Di bawah tanda itu putera-puteri Allah yang tercerai berai dihimpun menjadi satu[6] , sampai terwujudlah satu kawanan dan satu gembala[7] .
3.
Oleh karena itu dalam hal pengembangan dan pembaharuan liturgi, Konsili suci berpendapat: perlu meningkatkan lagi azas-azas berikut dan menetapkan kaidah-kaidah praktis. Di antara azas-azas dan kaidah-kaidah itu ada beberapa yang dapat dan harus diterapkan pada ritus romawi maupun pada semua ritus lainnya. Namun kaidah-kaidah praktis berikut harus dipandang hanya berlaku bagi ritus romawi, kecuali bila menyangkut hal-hal yang menurut hakekatnya juga mengenai ritus-ritus lain.
4.
Akhirnya, setia mengikuti tradisi, Konsili suci menyatakan pandangan Bunda Gereja yang kudus, bahwa semua ritus yang diakui secara sah mempunyai hak dan martabat yang sama. Gereja menhendaki agar ritus-ritus itu di masa mendatang dilestarikan dan dikembangkan dengan segala daya upaya. Konsili menghimbau agar bilamana perlu ritus-ritus itu ditinjau kembali dengan seksama dan secara menyeluruh, sesuai dengan jiwa tradisi yang sehat, lagi pula diberi gairah baru, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman sekarang.
BAB SATU – AZAS-AZAS UMUM UNTUK MEMBAHARUI DAN MENGEMBANGKAN LITURGI
I. HAKEKAT DAN MAKNA LITURGI SUCI DALAM KEHIDUPAN
5. (Karya keselamatan dilaksanakan oleh Kristus)
Allah menghendaki supaya semua manusia selamat dan mengenal kebenaran (1 Tim 2:4). Setelah Ia pada zaman dahulu berulang kali dan dengan pelbagai cara bersabda kepada nenek-moyang kita dengan perantaraan para nabi (Ibr 1:1), ketika genaplah waktunya, Ia mengutus Putera-Nya, Sabda yang menjadi daging dan diurapi Roh Kudus, untuk mewartakan Kabar Gembira kepada kaum miskin, untuk menyembuhkan mereka yang remuk redam hatinya[8] , “sebagai tabib jasmani dan rohani”[9] , Pengantara Allah dan manusia[10] . Sebab dalam kesatuan pribadi Sabda kodrat kemanusiaan-Nya menjadi upaya keselamatan kita. Oleh karena itu dalam Kristus “pendamaian kita mencapai puncak kesempurnaannya, dan kita dapat melaksanakan ibadat Ilahi secara penuh”[11] .
Adapun karya penebusan umat manusia dan permuliaan Allah yang sempurna itu telah diawali dengan karya agung Allah di tengah umat Perjanjian Lama. Karya itu diselesaikan oleh Kristus Tuhan, terutama dengan misteri Paska: sengsara-Nya yang suci, kebangkitan-Nya dari alam maut, dan kenaikan-Nya dalam kemuliaan. Dengan misteri itu Kristus “menghancurkan maut kita dengan wafat-Nya, dan membangun kembali hidup kita dengan kebangkitan-Nya”[12] . Sebab dari lambung Kristus yang beradu di salib muncullah Sakramen seluruh Gereja yang mengagumkan[13] .
Jl. Flamboyan Raya No. 139 Tlp. (061)8365163 - Kel. Tanjung Selamat - Kec. Medan Tuntungan - Medan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Gereja. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Juni 2010
EVANGELII NUTIANDI
(Imbauan Apostolik dari Bapa Suci Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Dunia Modern)
Pendahuluan
Situasi dunia modern sekarang ini ditandai dengan carut-marut centang perenangnya nilai-nilai moral kemanusiaan yang serba permisif, pragmatis dan praktis mengakibatkan terjebaknya kehidupan manusia ke dalam hidup yang serba instan-gampangan yang ujung-ujungnya manusia menjadi teralienasi. Manusia tidak sadar akan hakekat dan martabat yang disandangnya yakni Citra Allah, makhluk tertinggi yang ada di atas muka bumi ini.
Situasi ini muncul disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya kemajuan Iptek yang demikian pesatnya yang perubahannya perlu perhatian ekstra agar bisa tetap bisa mengikuti (up to date). Dunia telekomunikasi terutama internet menjadikan dunia ini sebagai global village yang mampu meruntuhkan tembok-tembok dan sekat-sekat yang menjadi pembatas yang membedakan aku dan dia, kami, kita dan mereka. Melalui kecanggihan internet, kehidupan bisa dianalogikan dengan pasar swalayan yang menyediakan segala macam barang. Orang tinggal ambil apa yang menjadi kebutuhannya. Meski tidak jarang orang pun mengambil tanpa menyadarinya apakah barang ini atau itu benar-benar ia butuhkan. Yang penting keranjang belanjaannya terlihat penuh demi menaikkan gengsi dan gaya hidup.
Pendahuluan
Situasi dunia modern sekarang ini ditandai dengan carut-marut centang perenangnya nilai-nilai moral kemanusiaan yang serba permisif, pragmatis dan praktis mengakibatkan terjebaknya kehidupan manusia ke dalam hidup yang serba instan-gampangan yang ujung-ujungnya manusia menjadi teralienasi. Manusia tidak sadar akan hakekat dan martabat yang disandangnya yakni Citra Allah, makhluk tertinggi yang ada di atas muka bumi ini.
Situasi ini muncul disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya kemajuan Iptek yang demikian pesatnya yang perubahannya perlu perhatian ekstra agar bisa tetap bisa mengikuti (up to date). Dunia telekomunikasi terutama internet menjadikan dunia ini sebagai global village yang mampu meruntuhkan tembok-tembok dan sekat-sekat yang menjadi pembatas yang membedakan aku dan dia, kami, kita dan mereka. Melalui kecanggihan internet, kehidupan bisa dianalogikan dengan pasar swalayan yang menyediakan segala macam barang. Orang tinggal ambil apa yang menjadi kebutuhannya. Meski tidak jarang orang pun mengambil tanpa menyadarinya apakah barang ini atau itu benar-benar ia butuhkan. Yang penting keranjang belanjaannya terlihat penuh demi menaikkan gengsi dan gaya hidup.
Label:
Ajaran Gereja
Langganan:
Postingan (Atom)